Mist.Umsida.ac.id – Program Studi S2 Inovasi Sistem dan Teknologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (MIST Umsida) menggelar Lokakarya Kurikulum pada Senin (15/6/2026). Kegiatan ini berlangsung di Ruang Rapat Fakultas Sains dan Teknologi, Kampus 2 Umsida, Gelam, Candi, Sidoarjo.
Baca Juga: Buka Bersama Prodi MIST 2026: Antusiasme Mahasiswa dalam Kegiatan Berbagi Takjil dan Kajian Ramadan
Lokakarya ini menjadi bagian dari langkah strategis MIST Umsida dalam memperkuat mutu akademik, menyesuaikan kurikulum dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memastikan proses pembelajaran tetap relevan dengan kebutuhan dunia industri dan masyarakat.
Kegiatan tersebut diikuti oleh jajaran Program Pascasarjana Umsida, kaprodi dan sekprodi program studi S2, serta menghadirkan Prof Ir Era Purwanto sebagai narasumber. Selain itu, lokakarya juga menghadirkan praktisi industri, Nuswanggono ST, yang memberikan masukan terkait kebutuhan kompetensi lulusan di dunia kerja.
Perkuat Arah Kurikulum MIST
Agenda utama lokakarya membahas review dan penyempurnaan kurikulum Program Studi S2 Inovasi Sistem dan Teknologi. Pembahasan juga diarahkan pada perumusan struktur kurikulum, penguatan mata kuliah, serta pengembangan jalur riset yang sesuai dengan karakter magister terapan.
Ketua Prodi MIST Umsida, Dr Ir Izza Anshory ST MT, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperjelas arah pengembangan MIST sebagai program magister terapan yang memiliki kedekatan kuat dengan kebutuhan industri.
“Lokakarya ini kami selenggarakan untuk memastikan kurikulum MIST semakin relevan dengan kebutuhan industri dan perkembangan teknologi. Kurikulum tidak boleh hanya kuat secara akademik, tetapi juga harus mampu menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat dan dunia kerja,” ujarnya.
Menurutnya, pembelajaran di jenjang magister terapan harus memiliki karakter yang berbeda dari jenjang sarjana. Mahasiswa tidak cukup hanya diarahkan untuk memahami teori, tetapi juga perlu didorong menghasilkan inovasi, gagasan aplikatif, serta solusi atas persoalan nyata di lingkungan profesional masing-masing.
Dr Izza menjelaskan bahwa sasaran mahasiswa MIST tidak hanya diarahkan kepada fresh graduate. Program ini lebih relevan bagi kalangan profesional industri, engineer, supervisor, manajer teknis, praktisi teknologi, hingga pegawai perusahaan yang ingin meningkatkan kapasitas akademik dan kompetensi profesionalnya.
“Mahasiswa MIST harus didorong membawa problem nyata dari lingkungan kerjanya. Dari problem itu, proses akademik dapat diarahkan menjadi proyek, penelitian, publikasi, hingga tesis yang memiliki manfaat langsung,” tambahnya.
Pembelajaran Fleksibel, Capaian Tetap Terukur
Direktur Pascasarjana Umsida, Prof Dr Hana Catur Wahyuni ST MT IPM, menegaskan bahwa pengembangan kurikulum pascasarjana perlu memperhatikan karakter mahasiswa magister yang umumnya telah bekerja.
Menurutnya, rancangan pembelajaran harus mampu menjawab kebutuhan mahasiswa tanpa mengabaikan standar akademik dan capaian pembelajaran yang telah ditetapkan.
“Kurikulum pascasarjana harus dirancang dengan membaca kebutuhan mahasiswa dan perkembangan industri. Fleksibilitas pembelajaran menjadi penting, tetapi kualitas capaian pembelajaran tetap harus menjadi prioritas,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut menjadi penekanan penting dalam lokakarya. Sebab, mahasiswa magister terapan membutuhkan model pembelajaran yang adaptif, tetapi tetap terarah pada peningkatan kompetensi, penguatan riset terapan, dan kontribusi nyata bagi dunia kerja.
Dalam konteks ini, fleksibilitas tidak dimaknai sebagai pelonggaran kualitas, melainkan sebagai strategi agar proses akademik dapat berjalan efektif bagi mahasiswa yang memiliki latar belakang profesional.
Tesis Terintegrasi Sejak Awal Studi
Sementara itu, Prof Ir Era Purwanto menyoroti pentingnya integrasi tesis sejak awal perkuliahan. Ia menegaskan bahwa tesis tidak seharusnya diposisikan sebagai tugas akademik yang baru dimulai pada semester akhir.
“Jangan sampai tesis dikerjakan di akhir. Ketika sampai semester akhir, tesis seharusnya sudah hampir selesai,” tegas Prof Era.
Ia mendorong agar setiap mata kuliah dapat menghasilkan proyek yang terhubung dengan topik tesis mahasiswa. Dengan pola tersebut, proses pembelajaran tidak berjalan terpisah-pisah, tetapi saling menguatkan dari mata kuliah, proyek akademik, publikasi, hingga penyelesaian tesis.
Gagasan ini dinilai relevan dengan karakter MIST sebagai program magister terapan. Mahasiswa dapat mengembangkan riset berdasarkan persoalan nyata di tempat kerja, kemudian mengolahnya secara akademik menjadi karya ilmiah yang memiliki nilai praktis.
Masukan dari praktisi industri, Nuswanggono ST, juga memperkuat arah penyusunan kurikulum. Perspektif dari dunia industri menjadi bahan penting agar kurikulum MIST tidak hanya memenuhi standar akademik, tetapi juga selaras dengan kebutuhan pengguna lulusan.
Baca Juga: Jabatan Tak Lagi Cukup untuk Memimpin Organisasi Modern
Dari lokakarya ini, MIST Umsida menghasilkan sejumlah rekomendasi penting. Di antaranya penyempurnaan struktur kurikulum, penguatan jalur riset, integrasi mata kuliah dengan tesis, fleksibilitas model pembelajaran, serta evaluasi berbasis capaian mahasiswa.
Penulis: Akhmad Hasbul Wafi








