Mist.umsida.ac.id – Inovasi teknologi terus dikembangkan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) untuk menjawab berbagai persoalan di masyarakat. Kali ini, tim peneliti Umsida berhasil mengembangkan prototipe kacamata pintar berbasis Internet of Things (IoT) yang dirancang untuk membantu penyandang tunanetra mengenali rintangan sekaligus memungkinkan pemantauan lokasi secara jarak jauh.
Baca Juga: Audit Mutu Internal MIST Umsida Perkuat Kualitas Akademik dan Tata Kelola Prodi
Inovasi tersebut dikembangkan oleh M Muzzamilul Azmi bersama Arief Wisaksono, Akhmad Ahfas, dan Izza Anshory dari Program Studi Teknik Elektro, Fakultas Sains dan Teknologi Umsida.
Penelitian berjudul Perancangan Perangkat Asistif Tunanetra Berbasis IoT dengan Panduan Suara dan Pemantauan Lokasi ini telah dipublikasikan dalam Jurnal Teknologi Elektro (JTE) UNIBA Volume 10 Nomor 2 pada April 2026.
Pengembangan perangkat tersebut dilatarbelakangi oleh keterbatasan alat bantu konvensional, seperti tongkat tunanetra, yang umumnya hanya mampu mengenali hambatan melalui kontak langsung.
Kondisi ini dapat menyulitkan pengguna ketika menghadapi rintangan yang berada di luar jangkauan tongkat. Selain itu, keterbatasan fitur pemantauan lokasi juga menjadi tantangan bagi keluarga atau pendamping saat penyandang tunanetra beraktivitas secara mandiri.
Kacamata Pintar dengan Peringatan Suara Otomatis
Untuk menjawab permasalahan tersebut, tim peneliti merancang perangkat berbentuk kacamata yang mengintegrasikan sensor ultrasonik, sistem panduan suara, serta teknologi pelacakan lokasi.
Sensor ultrasonik HC-SR04 dipasang pada bagian depan kacamata untuk mendeteksi keberadaan objek melalui pantulan gelombang suara.
Data hasil pendeteksian kemudian diproses oleh mikrokontroler ESP32 yang berfungsi sebagai pusat pengendali seluruh sistem.
Ketika sensor mendeteksi objek pada jarak yang berpotensi membahayakan pengguna, perangkat secara otomatis memberikan peringatan suara melalui speaker yang terhubung dengan modul DFPlayer Mini.
Salah satu pesan yang dihasilkan perangkat adalah “awas ada halangan”, sehingga pengguna dapat mengetahui keberadaan rintangan tanpa harus melihat atau menyentuh objek tersebut.
Tidak hanya memberikan peringatan, kacamata pintar ini juga dilengkapi modul GPS Neo-8 untuk memperoleh koordinat lokasi pengguna.
Informasi lokasi tersebut dapat dikirimkan melalui jaringan Wi-Fi menuju aplikasi Telegram sehingga keluarga atau pendamping dapat mengetahui posisi perangkat dari jarak jauh.
Integrasi teknologi tersebut menjadi nilai penting dari penelitian ini karena menggabungkan fungsi keselamatan pengguna dan pemantauan lokasi dalam satu perangkat asistif.
Mampu Deteksi Rintangan hingga 160 Sentimeter
Penelitian dilakukan menggunakan metode Research and Development (R&D), yang mencakup tahapan perancangan sistem, pembuatan prototipe, serta pengujian fungsi dan kinerja perangkat.
Hasil pengujian menunjukkan sensor ultrasonik mampu mendeteksi keberadaan objek secara stabil pada rentang jarak 30 hingga 160 sentimeter.
Ketika objek berada pada jarak kurang dari 100 sentimeter, sistem mengategorikannya sebagai kondisi berbahaya dan mengaktifkan peringatan suara.
Sementara pada jarak 100 hingga 160 sentimeter, sistem memberikan notifikasi sebagai pengingat keberadaan rintangan. Adapun pada jarak lebih dari 160 sentimeter, perangkat tidak mengaktifkan peringatan karena objek berada di luar batas deteksi yang ditetapkan dalam sistem.
Pengujian respons audio juga memperlihatkan hasil yang sesuai dengan rancangan perangkat.
Dari sepuluh percobaan, delapan pengujian menunjukkan objek berhasil terdeteksi dan peringatan suara terdengar dengan respons cepat. Pada dua pengujian lainnya, sistem tidak menghasilkan suara karena objek tidak terdeteksi.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa sistem mampu membedakan kondisi yang membutuhkan peringatan dengan kondisi yang tidak memerlukan respons audio.
Selain pengujian sensor, tim peneliti juga mengevaluasi ketepatan modul GPS dengan membandingkan koordinat yang dihasilkan perangkat terhadap titik referensi pada Google Maps.
Dari sepuluh pengujian, diperoleh selisih posisi sebesar 3,32 hingga 6,28 meter. Hasil ini menunjukkan kemampuan pembacaan koordinat yang relatif konsisten selama proses pengujian.
Teknologi Inklusif untuk Mendukung Kemandirian Tunanetra
Pengembangan kacamata pintar berbasis IoT ini menjadi salah satu bentuk pemanfaatan teknologi untuk mendukung kebutuhan penyandang disabilitas, khususnya dalam aspek mobilitas dan keselamatan.
Melalui fitur pendeteksi rintangan dan panduan suara, perangkat berpotensi membantu pengguna memperoleh informasi tentang kondisi lingkungan di sekitarnya secara lebih cepat.
Sementara itu, fitur pemantauan lokasi melalui Telegram memberikan kemudahan tambahan bagi keluarga atau pendamping dalam memperoleh informasi posisi pengguna.
Meski hasil pengujian menunjukkan kinerja perangkat yang stabil, penelitian ini masih berada pada tahap pengembangan prototipe sehingga membutuhkan penyempurnaan dan pengujian lebih lanjut sebelum dapat digunakan secara luas.
Optimalisasi tersebut diperlukan untuk meningkatkan efektivitas, kenyamanan, serta keandalan perangkat dalam menghadapi berbagai kondisi lingkungan.
Penelitian ini memperlihatkan bahwa pengembangan teknologi tidak hanya berfokus pada kecanggihan sistem, tetapi juga dapat diarahkan untuk menghadirkan solusi atas kebutuhan nyata masyarakat.
Baca Juga:
Melalui inovasi perangkat asistif tersebut, peneliti Umsida turut membuka peluang pengembangan teknologi yang lebih inklusif, sekaligus mendukung upaya peningkatan keselamatan dan kemandirian penyandang tunanetra dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Penulis: Akhmad Hasbul Wafi
Sumber: Azmi, M. M., Wisaksono, A., Ahfas, A., & Anshory, I. (2026). Perancangan Perangkat Asistif Tunanetra Berbasis IoT dengan Panduan Suara dan Pemantauan Lokasi. Jurnal Teknologi Elektro (JTE) UNIBA, Vol. 10, No. 2, April 2026, hlm. 788–796.










